Update Sistem pendidikan Indonesia butuh revolusi pemikiran Cek Disini!

Baca disni artikel tentang Sistem pendidikan Indonesia butuh revolusi pemikiran . Berikut ini artikel tentang Sistem pendidikan Indonesia butuh revolusi pemikiran baca disini.

Penggagas Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal menegaskan, Indonesia harus menciptakan renaisans untuk mendorong revolusi pemikiran menuju paradigma pendidikan.

Hal tersebut disampaikan Rizal dalam workshop “Penguatan soft skill melalui gerakan-gerakan sekolah yang lucu”, yang diselenggarakan GSM bersama Balai Besar Penjaminan Mutu Pelatihan Vokasi Teknik Mesin dan Industri (BBPPMPV BMTI) pada Senin, 2 Agustus 2021.

“Indonesia perlu melakukan renaisans di bidang pendidikan. Revolusi pemikiran terhadap paradigma pendidikan pasti sudah terjadi sekarang ini,”

ujarnya.

Dalam kesempatan ini, kata Rizal, menarik untuk dimaklumi ternyata tren global yang akan terjadi ke depan akan semakin memberdayakan masyarakat (individual empowerment).

“Artinya, ke depan banyak orang yang berkesempatan mengakses informasi, pengetahuan, dan sumber daya,” ujarnya.

Baca juga: Mendobrak Doktrin Dogmatis dengan Pendidikan Logis

Dapatkan informasi, inspirasi, dan wawasan di email Anda.
email pendaftaran

Otorisasi individu

Hal ini bisa terjadi karena Rizal menilai sifat teknologi, yang karena cloud computing dan semakin beragamnya teknologi, mudah, murah dan cepat diakses untuk memperluas kemungkinan setiap individu untuk mengakses informasi.

“Akibatnya, justru semakin banyak masyarakat kelas menengah yang standar hidup dan kualitas hidupnya justru akan meningkat di masa depan. Akses kesehatan dan pendidikan semakin baik dan ekonomi tumbuh,” kata Rizal.

Dengan akses pengetahuan, Rizal menambahkan, informasi dan sumber daya semakin meningkat sehingga semakin banyak individu yang memiliki kekuatan.

“Artinya tren ke depan adalah distribusi kekuasaan. Dulu kekuasaan hanya dimiliki segelintir penguasa dan elit, jadi kontrol datang dari pusat,” kata Rizal.

Ia melanjutkan, “Namun, di masa depan, kekuatan akan meluas ke individu, bahkan kelas menengah, sehingga kelas menengah akan tumbuh di masa depan. Fenomena ini dikenal sebagai kelas menengah global.”

Di satu sisi, kabar ini merupakan kabar baik karena semakin banyak orang yang meningkatkan taraf hidupnya secara material.

Di sisi lain, hal ini justru mendorong terjadinya pergeseran tatanan, peradaban, dan sifat interaksi kehidupan manusia yang sangat mendasar dan seperti yang terjadi sebelumnya.

“Pergeseran peradaban dapat menimbulkan gesekan, konflik, ketidakstabilan, dan kekerasan jika tidak diharapkan,” peringatan Rizal.

Selain itu, peningkatan kualitas hidup juga berdampak pada peningkatan ketimpangan dengan membuat masyarakat kelas bawah tidak memiliki akses terhadap teknologi karena masalah ekonomi atau kurangnya kemampuan untuk menggunakan teknologi.

Baca Juga: UT Hong Kong: Pendidikan Tinggi Kunci Tingkatkan Kualitas TKI
Pendidikan berbasis keterampilan

Dengan potret pendidikan Indonesia yang jauh mengarah ke sana, Rizal menilai Indonesia membutuhkan renaisans di bidang pendidikan.

“Untuk menghadapi perubahan peradaban ini, diperlukan revolusi pemikiran yang mendasar terhadap paradigma pendidikan Indonesia,” tegasnya.

Menggunakan kutipan dari John Dewey, Rizal menjelaskan bahwa keadaan suatu bangsa dapat dilihat dari kelasnya, sehingga pendidikan adalah kunci utama untuk mendorong bangsa Indonesia bertahan melalui gesekan konflik peradaban ini.

“Peran utama pendidikan adalah mencegah akselerasi teknologi menggerogoti peran manusia dalam kehidupan di masa depan. Ini merupakan proyeksi pendidikan ke depan,” tegas Rizal.

Dia menambahkan: “Oleh karena itu, pelatihan yang disiapkan harus berpusat pada manusia dan dipersonalisasi.”

Artinya tidak hanya konten pendidikan yang sehat secara akademis yang disampaikan, tetapi juga keterampilan dan pengetahuan untuk pertahanan diri di masa depan, seperti kecakapan hidup, keterampilan sosial, dan keseimbangan mental.

Terbukti dengan pernyataan Dirjen Vokasi, Wikan Sakarinto, bahwa masalah aspirasi pekerja yang merupakan lulusan perguruan tinggi, ketahanan diri dalam menghadapi tekanan dunia kerja. pekerjaan, kurangnya komunikasi lisan dan tulisan, kurangnya kerjasama tim dan inisiatif”, kata Rizal.

“Ini adalah tanda bahwa ada kebutuhan mendesak untuk kebangkitan dalam pendidikan,” katanya.

LIHAT JUGA :

https://voi.co.id/
https://4winmobile.com/
https://mesinmilenial.com/
https://ekosistem.co.id/
https://www.caramudahbelajarbahasainggris.net/
https://laelitm.com/
https://www.belajarbahasainggrisku.id/
https://www.chip.co.id/
https://pakdosen.co.id/
https://duniapendidikan.co.id/